Gue pengen menutup September, bulan kelahiran favorit gue ini dengan merenung.
Menelan semua kekalahan yang gue idamkan tahun ini dengan rasa lapang, termasuk pengumuman piala HB Jassin 90 menit lalu.
Menelan semua kecewa yang gak banyak bisa gue ungkap. Jadi gue telan semampu gue.
Mengikhlaskan kepergian salah satu sahabat gue tanpa banyak pertanyaan.
Menghibur diri gue yang semakin merasa kesepian, padahal dunia berisik banget.
Memeluk diri gue yang banyak ketakutan karena ambisi gue.
Membereskan yang terasa berantakan.
Mengumpulkan serpihan-serpihan biar utuh lagi.
Betapa gue menyadari, semakin lama gue semakin kesulitan mengenali diri sendiri dalam versi yang sedih.
Banyak orang bilang, gue terlalu banyak ketawa sampe itu semua gak keliatan natural lagi.
Memang, ada bedanya orang ketawa dan pura-pura ketawa, karena mata tetap berbicara.
Kemarin, Kapri ke rumah selama satu malem. Gue tau, dia tau sesuatu (yang meskipun gue udah menduga), tapi gue gamau tanya.
Dia keliatan nahan tangis begitu liat gue jemput dia di stasiun.
2 hari, tapi gue cukup peka untuk ditatap 'abnormal' sama dia. Tapi gue diem aja.
Yang gak dikasih tau, jangan nyari tau..
Sampai akhirnya, 2 jam sebelum kepulangannya, tiba-tiba tangis dia pecah. Dia bilang gue terlalu banyak nahan beban, kayak kakaknya. Termasuk kehilangan sahabat gue yang selama ini gue bungkam.. dia tau.
Padahal, gue gak bilang apa-apa loh selama ini?
Buat kesekian kalinya, Kapri bilang, "Kamu kan tahu kamu bisa cerita ke aku. Iya kan?"
Kata gue, "Tahu, cuma aku nggak tau cara ceritanya."
Dia diem, matanya merah lagi.
Kapri nanya, gue kenapa semua ditahan?
Gue cuma ketawa sambil meras tangan gue sendiri. Takut nangis soalnya.
"Aku ngrasa makin gak mampu menyerap energi apapun selain happy. Nanti aku gakuat hidupnya. Jadi, kalau aku punya luka, aku jahit satu-satu sebisaku (gue sambil meragain gestur menjahit)."
"Aku lagi dalam kondisi membius diri biar luka-lukaku gak kerasa sakitnya," tambah gue lagi.
"Gimana kalau biusnya udah ilang? Mau lari ke mana kamu sama sakitnya?"
Pertanyaan Kapri bikin gue nyengir. Soalnya ini kalimat yang mirip banget ditanyain Ordal Surga sebelum dia pindah Depok.
Pada akhirnya, gue cuma bisa jawab sekenanya, "Tuhan pasti tahu gue harus apa kalau biusnya udah abis."
2027 masih sisa 3 bulan lagi... atau tinggal 3 bulan lagi.
Tahun ini, gue banyak banget terluka.
Sakit banget rasanya. Badan gue babak belur sana sini. Tapi, gue gak punya ruang aman untuk marah atau ngebela diri.
Kadang, gue benci sebagian diri gue yang people pleaser, gabisa marah karena gue lebih takut gue nyakitin orang dibandingin orang nyakitin gue.
Gue tetep senyum lebar meskipun digebukin. Gue tetep ketawa meski dipukul hatinya. Gatau sampai kapan ya gue kayak gini?