Thursday, 15 January 2026

A Jakarta

Di sepanjang perjalanan pulang, gue baru menyadari..

Ternyata gue menyayangi dia, melebihi yang gue duga.
Sangat malah.
Sangat menyayangi orang ini.

Ngeliat gurat kelelahannya yang makin ke sini makin jelas.
Ekspresinya yang datar, tapi gue tahu dia berisik di dalam.
Seolah kayak ada naga yang ngamuk pengen ngeluarin api.

Matanya yang kadang bergerak gelisah.
Tubuhnya yang sedikit bungkuk.

Pengen gue elus rambutnya yang sekarang kayak landak rumah ikan.
Elus pelan alisnya sambil bilang, "Gak papa kalau capek. Tiduran sebentar."

Dalam beberapa malam yang berharga, gue puasin untuk melihat dia lebih dalam.

Notis jari-jarinya yang kayak habis suka dia kunyah.
Ternyata dia lagi cemas.


Sepanjang perjalanan, gue lirik dia yang tenggelam dalam kesibukannya.
Tangannya yang panjang sibuk menari di atas layar hapenya yang usianya mungkin lebih tua dari keponakan kesayangannya.


Sesekali dia refleks mau gigit jarinya.
Di mana saat yang sama, gue refleks ngeliat dia dengan tatapan "Jangan, ya.."

Entah gimana dia tau dan nurut.
Setiap mau gigit jari, matanya ngeliat ke arah gue dan berhenti.

Gue khawatir dia bawa tas berat tanpa mikir beban di pundaknya.
Gue khawatir sepatunya yang mau jebol bakal ngelukain kakinya.
Gue khawatir bajunya yang tipis bisa bikin badan kurusnya sakit dan kedinginan.

Gue khawatir kalau makannya cepet-cepet, nanti dia tersedak.
Gue khawatir karena dia terlalu sering menerobos hujan.
Gue khawatir kalau jarinya berdarah karena dia kelopekin, dia nggak sedia tisu basah.
Gue khawatir dia lupa sunscreen-nya.
Gue khawatir dia gak bener bersihin mukanya pake micellar water.
Gue khawatir dia lupa kalau dia manusia biasa.

Andai dia tau, betapa gue peduli sama dirinya...
Khawatir sama semua kondisinya.

Dalam perjalanan 2 tahun ini, gue melihat beberapa ketidakcocokan di antara gue dan dia.
Yang dalam diam, kadang bikin gue patah arang.

Tetapi....

Entah gimana... Bagaimana bisa semua kekurangan yang gue lihat di dalam dirinya, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang ingin selalu gue lindungi?



Tapi di saat yang sama, gue nggak mampu bilang secara gamblang.

Terlalu takut nggak dapat balasan selain centang biru tanda terbaca.
Terlalu takut perasaan gue adalah luka baru yang gue ciptakan sendiri.. patah hati lagi.

Andai waktu tak terlalu lama menyimpan keberanian di antara kami untuk berbicara.
Entah akan seperti apa jadinya?

Mungkin gue udah bersama dia.
Menyayangi dengan lebih leluasa.
Melindungi tidak sembunyi-sembunyi.

Mencintainya secara terbuka.


Sepertinya, 2 tahun ini cukup membuktikan bahwa gue udah terkena sihirnya.
Menerima secara terang-terangan kelelahan dalam perang batin gue sendiri.

Tuhan, gue ingin mengaku, bahwa gue telah jatuh cinta kepada salah satu makhluk indah ciptaan Mu.
Wajahnya yang teduh menari-nari di kepala.

Tuhan, gue mencintai makhluk Mu ini dalam diam.
Mendekapnya dalam doa karena belum ditanya sama dia.

Gue tidak punya kuasa untuk bertindak apapun.
Selain apa?

0 comments:

Post a Comment

 
Catatan Lebay Seorang Dugong Blogger Template by Ipietoon Blogger Template