Di balik muka gue yang suke keliatan ketawa, sebenernya gue punya ketakutan berlebihan soal mengakui diri kalau lagi dalam perasaan negatif.
Dan rasa cemburu itu salah satu yang sangat menyiksa.
Gue jujur capek nge-handle diri untuk tetap stay calm ngeliat dia bertingkah sama crush-nya (atau cuma pancingan dia? I dunno).
Bagi gue, di titik ini, dia sungguh gak dewasa.
Liat? Gue bahkan udah kebingungan nulis apa yang gue rasain sebenernya.
Yang jelas, gue marah dan sedih.
Gue malu merasa 'dihina' dengan foto tangan di statusnya.
Merasa sedih melihat tatapan 'kasian' dari mereka yang akhirnya tau itu bukan gue.
Ketika gue dengan tenang ngomong, "Oh, ini bukan aku." dan tatapan mereka nggak percaya.
"Sumpah itu bukan kamu? Itu kayak tanganmu."
Kebayangkah kalau gue disuruh bersumpah kalau gue keliatan ditolak?😂
Malam itu kepala gue berisik sambil nata barang di kamar hotel. Berusaha ngalihin pikiran dengan berbagai kesibukan.
Gue menolak dipeluk siapapun dan menjawab setiap pertanyaan, "Are u okay?"
Tentu dengan wajah ceria gue.
Dada gue gemetaran dan perasaan gue nggak karuan. Berusaha ngehibur diri sendiri.
Tapi akhirnya pertahanan gue runtuh. Malam itu gue nangis sambil waspada kalau-kalau roommate gue yang lagi party tiba-tiba datang.
Kebayang nggak semenyiksa apa?
Gue sedih.
Gue marah.
Gue jeles.
Gue terhina.
Gue ketakutan.
Besok, ketemu dia, harus kayak gimana?
Oke, gue mau ngehindar.
Dan netral.
Tapi sial, di hari pertama kedatangannya, Tuhan mempertemukan kami di hall.. di menit pertama gue datang ke hall.
Wajah senyumnya yang gue rindukan... dan juga mau gue hindari, keliatan dari kejauhan. Lagi sibuk ngurusin barang karena dia habis datang.
Gue berusaha tenang semampunya. Karena mulai dari detik itu, semua senyumannya gue terima dengan kewaspadaan.
"Dia udah punya, gue nggak mau menyakiti diri sendiri... dan juga wanita di sana."
Tapi gue runtuh. Seruntuh-runtuhnya.
Tuhan kayak suka aja bikin plot kami sering barengan. Bahkan kamar pun cuma berseberangan.
Gestur gue yang selalu merasa aman dan nyaman di deket dia.
Gestur ketidaksukaan gue terhadap sentilannya soal crush dan status wasapnya.
Semua ketulusannya beneran gue terima apa adanya.
Kebaikannya.
Kesungguhannya membantu gue.
Di lobi malam itu, gue merekam wajah lelahnya dalam-dalam.
Kebingungan dengan perang batin gue.
Betapa beruntungnya orang itu (kalau beneran ada).
Dari sini gue tau, gue beneran jatuh cinta.
Lucu ya😂 Di saat dia mungkin udah punya, gue baru berani mengakui gue cinta dia.
Monyed ah..
0 comments:
Post a Comment