Sunday, 6 June 2021

Surat Perpisahan III

 Hahaha butuh tambahan waktu beberapa hari untuk gue memutuskan dan menyelesaikan tulisan ini, mempertanyakan apakah this is the right decision to share this story here. It' onoe of my deepest secret, my precious book...

Tapi gue akan tetap nulis, karena sepertinya ini akan membuat gue lebih lega dan plong untuk melepaskan sesuatu yang udah bertahun-tahun melekat dengan gue. It takes time and it has to be cut off from now... even if its really hard and hurt me...

So, here is the story...

As i said before, gue udah lost contact dan hampir nggak pernah ada kesempatan ngobrol lagi setelah lulus SMA dan kami beda kampus. Oke, pernah sih ketemu 2-3 kali. Pas itu gue ke Bandung dan dia ikutan makan malam sama keluarga gue bareng Lupong. Yang kedua kami ada meeting buat acara alumni di Solo dan gue sempet cuma berdua sama dia karena pada ngaret (emang pada kampret -_-) Tapi ya yaudah selain itu beneran enggak ada. 

So, this is how the complicated things started happened to me...

Sejak kami lulus SMA, gue mulai bermimpi tentang dia, padahal pas masih satu sekolah malah hampir nggak pernah. Awalnya tuh gue pikir ah karena gue terlalu kangen sama dia, kan 12 tahun satu sekolah jadi kayak belum terbiasa. Tapi lama kelamaan mimpi itu kerasa punya cerita, momen, dan situasi yang janggal.

Gue urutin kronologinya ya.

Gue sebut fase pertama mimpi ini "recalling a memory'. Karena di mimpi itu kami kayak malu-malu banget dan faktanya pas masa sekolah kami emang kayak gitu.  Ada temen-teman yang cie-ciein, kalo ketemu suka merah mukanya dsb. What i felt in that phase? Gue kadang suka kangen sama dia. Rasanya kayak semalem gue visit ke masa lampau dan merasakan bahagianya seperti apa.

Kalau gue lagi ulang tahun, dia akan datang ke mimpi gue untuk ucapin happy birthday. Pas gue lagi sedih, dia bakal datang hibur gue. Kalau gue lagi butuh semangat, dia datang buat gue. Dan ini terus berlangsung sampai beberapa tahun setelahnya (even last night), saat gue udah punya kehidupan baru dan aktifitas baru tanpa dia.

Hingga tahun ketiga selepas kami lulus, gue selalu mimpi dia kayak recalling masa lalu kami. Ketemu di SMA, ketemu di SD kami, ketemu pas SMP, dsb. Pokoknya tuh kayak gue balik lagi ke masa dulu.

Fase kedua gue namain "Why Me?" dimulai saat udah tahun ke empat. Mimpi gue juga mulai berubah cerita, kalau tadinya recalling, ini lebih banyak sedihnya. Ada salah satu satu mimpi yang sangat gue ingat dengan jelas hingga hari ini.

Waktu itu kami nggak sengaja ketemu di daerah tempat gue tinggal. Dalam mimpi, gue memutuskan untuk ninggalin dia. Kemudian dia datang dengan wajah sedih dan nanya ke gue, "Kamu masih ingat janji kita?" dan itu terus dia uang-ulang. Bangun tidur badan gue penuh keringat dan butuh waktu beberapa saat untuk fokus lagi kalo it wasn't real.

Pernah suatu hari gue deket sama seorang cowo. Pas gue berusaha mulai buka hati, dia akan datang ke mimpi gue dan berusaha mengacaukan niat gue untuk melupakan dia dan bikin nggak bisa move on. Selalu kayak gitu. Di titik ini gue mulai menyadari, ada yang salah dengan diri gue atau kami punya koneksi aneh yang enggak bisa dijelaskan hingga hari ini (entah kalo dia gimana).

Btw, i am so sorry for this. Aku terpaksa bohong sama kamu kalau aku depresi, padahal aku enggak. Aku enggak siap ketemu kamu setelah bertahun-tahun dengan semua mimpimu. Aku enggak siap ngomong dengan kamu seolah nothing was happened to us, to me... Aku takut aku akan berharap lagi sama kamu, mulai sayang kamu lagi, dan ketakutan-ketakutan itu membunuhku suatu saat nanti.

Gue jujur agak tersiksa di periode ini. Di saat kuliah gue sedang sangat menggila tugasnya, organisasi banyak duty, engga sempet main, dan asdos yang bikin gue kadang harus transkrip banyak data, pokoknya gue jadi gampang badmood dan nyalahin dia setiap mimpi itu datang.

Gue pernah nangis dan teriak, "Kamu maunya apasih?!!!" saking frustasinya. Seolah lu banyak pertanyaan tapi kayak enggak ngerti apa, enggak ngerti cara nyari jawabannya, dan semua jadi serba salah. Gue cuma bisa stalking dia dari medsos, curi dengar sana-sini tentang kabar dia yang makin keren di Bandung sana. Gue stuck untuk mencintai seseorang karena dia kan datang memperingatkan gue dengan wajah sedih dan di sisi lain gue nggak juga berhenti membandingkan dia dengan orang lain. Like he is so perfect why i need another man? I dont have any friend to share with..

Di part kedua ini gue merasa dia mulai menyakiti gue secara mental. Semua mimpi yang enggak gua inginkan, menimbulkan angan yang menyebalkan, dan praduga-praduga. Belum kalau ketemu teman-teman dari SD-SMA, gue akan terus disandingkan sama dia.

Mimpi part ketiga dimulai saat gue beneran move on, gue namain "Halucination". Why? Karena di sini adalah waktu dimana Gue mulai benar-benar terbiasa tanpa dia dan jarang mikirin lagi. Meskipun begitu, dia akan tetap selalu datang di mimpi gue. Kadang seminggu tiga kali, setiap hari, sebulan sekali, sampai tiga bulan sekali. Intinya enggak menentu.

Btw, di postingan sebelumnya gue pernah cerita tentang mimpi ajaib gue. Dan cowok yang gue maksud gendong bayi itu adalah dia hahaha...

Dia datang dengan cerita yang berbeda. Enggak recalling, enggak sedih, tapi justru hal yang kayaknya nggak akan mungkin terjadi, yaitu akhir yang bahagia bersama. Kadang gue mimpi kami kayak udah nikah dan orang-orang berbahagia buat kita. Kadang dia genggam tangan gue, berpelukan seolah pasangan sejati.

Gue pernah mimpi dia datang ke gue dan tanya, "Gimana caranya minta kamu ke bapakmu?"

Sebelum gue menginjak ke mimpi fase keempat dan kelima, sampe disini elo pasti bingung, like seriously gue mengalami itu bertahun-tahun? Yes, i swear. Gue cuma cerita ke orang-orang yang paling terdekat. Pernah pas gue frustasi, gue sampai marah dan teriak, "Kenapa sih kamu enggak berhenti jadi bayanganku? Kalau masih ada yang belum selesai, bilang, jangan giniin aku!"

Dan inilah part terberat... maybe it started from 2 years ago? Mimpi fase keempat, "His message." Jujur, gue nggak tahu apa yang terjadi. Mungkin di kehidupan nyata, dia udah mikirin nikah? 2019 atau 2020 kira-kira.

Waktu itu gue kayak lagi main bertiga sama dia dan Faiz (sobat gue dan temen satu SMA juga). Disitu tiba-tiba dia bilang gini, "Kamu kalau cari suami harus orang baik, biar kamu ikutan jadi baik. Kamu harus bahagia."

Disitu gue sedih dan tanya, "Kamu udah ketemu (sama jodohmu?)", dia bilang udah. Gue tanya lagi apakah dia udah kenal sebelumnya? Apakah itu teman satu kampus? Dia jawab "Iya."

Kemudian setelah sekian lama gue mimpi lagi, bulan Desember 2020 kalo gak salah. Intinya gue lagi-lagi mimpi dia mau nikah.

Suatu malam lain, gue mimpi dia datang ke acara lamaran gue (lah gue lamaran?). Disitu dia ada karena kebetulan calon suami gue orang sekampus dia juga gitulah. Disitu wajah dia bahagia banget, padahal gue sedih. Terus pas acara lamaran selesai, gue panggil dia untuk melipir ke suatu tempat and he said okay. Ketika udah di tempat yang sepi, gue tiba-tiba nangis dan tanya lirih, "Kamu dulu mencintai akukah?" Dia agak terdiam sebelum bilang dengan suara yang sangat pelan, "Iya.." Kami berdua sekarang menangis dan saling pegangan tangan. Dahi gue, gue tempelin di tangan kami berdua sampai air mata gue netes di kulit dia. Gue tanya lagi, "Sekarang (masih cinta?).." Dia jawab lagi, "Masih.."

Wah mampus sih gue bangun langsung kaget lagi ini apaan sih gitu yampun -_-

Di lain hari, gue mimpi ngobrol lagi sama dia. Dia bilang mau menikah sama orang yang daerahnya asal Sunda, intinya di Jawa Barat kali yah? Dan dia bilang satu kampus. Asli, kalau inget itu gue bergidik sendiri๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Why? Karena tiga hari kemudian sejak mimpi itu, temen baik gue ngabarin dia mau nikah๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Dan lucunya, dia tadinya basa-basi, eh tiba-tiba gue nyeletuk, "Nes, dia mau nikah ya?" Jujur gue kaget dengan pertanyaan gue dan of course temen gue jauh lebih kaget wkwkwk. Karena ternyata sebetulnya temen gue mau ngabari itu ke gue tapi masih ragu-ragu.

Seketika rasanya gue dipaksa melepaskan sesuatu yang selalu gue peluk selama ini. Sakit gak? Gue toyor yang pada bilang kaga wkwkwk! Gue langsung badmood di kantor, nggak konsen ngerjain deadline, tapi anehnya mata gue gak mau nangis. Dulu ada temen sekantor gue yang minta ijin nenangin diri karena terus menerus nangis pas gebetan dia ternyata nikah.

And i didnt cry...

Gue pikir saat gue pulang dari kantor, di motor gue bakal nangis. Gue senandungkan lagu Cinta Sejati nya BCL, lagu yang gue rasa itu cerita gue banget.. Tapi ya tetep aja air mata cuma di pelupuk tapi gak sampai netes.

Yah.... gue gagal nangis hingga hari ini. Gue gagal berduka atau merasa pedih. Sakit sih, tapi kayak yaudahlah.

Plot twist, dia menikah, of course dengan teman sekampusnya, orang Jawa Barat. Katanya mulai proses bulan Desember 2020. Now you can feel the creepiest thing of my long dream, right?

Mimpi fase kelima, mungkin gue bisa bilang "A good bye!" karena sejak gue tahu dia mau menikah, gue semakin sering mimpi dia tapi dengan cerita yang gajelas alias random. Kayak yaudah kami cuma ketemu karena aktifitas bareng tapi gada apapun diantara kami. Dalam seminggu, gue sampai 4 malam mimpinya, serem ya -_-

So, here it is...

Today is your happy day, man... 

Start from today you will always remember this 6 June for your whole life

Because today you start to life happily after with someone you choose

Today will be your special moment every year, that you will celebrate it as 'Anniversary'


But for me, today it should be the last day i am thinking about you

I should stop dreaming to have you


I knew.. life is so funny huh?

When you are happy (i can see your smile on your wedding video)

And here i am, alone and thinking about my next patch

Of course without you on my plan...

And here i am, have to keep my voice telling 'im okay'

For everyone who saw me as 'the abandoned girl'


So this will be my very last paper about you

I am so happy for you

Let's we meet in another day, me without feel this pain

You with your new family


My very last words..

I love you and thankyou for everything


Good bye

Thursday, 20 May 2021

Surat Perpisahan II

 Gue nggak ngerti kenapa terbesit pikiran untuk menulis ini. Tapi karena bisa aja ini akan menjadi postingan terakhir gue tentang dia, mungkin enggak papa untuk mencurahkan semuanya disini. Toh, gue ingin merasa plong dan sudah saatnya gue melepaskan apa yang gue simpan dan rahasiakan selama ini.


Siapa tahu.... siapa tahu dia akan membaca ini suatu hari nanti.

And i wish he could....


Mencintai seseorang bisa menjadi dua sisi dalam catatan hati setiap manusia, bisa menjadi cerita yang baik atau menyedihkan. Gue pilih cerita ini sebagai sisi yang terang, meski hasilnya (mungkin) tidak seperti yang gue pernah harapkan.

Gue pernah menyukai seseorang, bahkan mungkin lebih daripada itu. Saat itu gue ada di bangku SMP dan kayaknya dari kelas 7. Waktu itu banyak yang bilang kami mirip termasuk guru-guru, meski gue enggak menemukan dimana sisi kemiripannya. Sejak saat itulah kami beneran digosipin satu sekolah sebagai pasangan yang cocok. Gue akan menjelaskan bagaimana visual kami berdua pada masa itu.

Gue bocah tomboy yang cerewet, enggak begitu menonjol dalam prestasi, punya banyak teman (enggak congqaq but who doesnt know me?), dan aktif di sekolah. Sedangkan dia, well let's we call him as dewa dari segala dewa. He is handsome (really handsome i swear), kalem, pinter banget, banyak yang naksir, dan punya kulit putih kemerahan. The favorite thing about him that i like was his hair di dahi yang kalau ketiup angin langsung bikin gue deg-degan and please... u will never forget his chubby cheek will it turn into red pas malu. All i can say, he is so perfect ๐Ÿ˜…

I dunno when i started to falling love with him because it was just happened. Kayak tadinya lu santai bae dicie-ciein sama dia, tiba-tiba lu mulai suka dia bahkan sebelum lu sadari. Muka gue ikutan merah tiap ketemu, tangan gue dingin karena grogi, dan mulai memikirkan dia di malam-malam setelahnya.

Singkat cerita kami satu SMA lagi, dengan segala drama dan gosip dari teman-teman. Di masa ini gue menemukan rasanya 'bersaing' secara nyata dengan cewek yang juga naksir dia dan rupanya lebih agresif daripada gue. But still.. that was a very nice memories that i can tell you about us. We never had call, texting, or something diluar urusan sekolah. Meskipun begitu, gue selalu merasakan bahwa dia juga membalas perasaan gue dengan cara yang tidak terungkapkan. Dan gue sangat nyaman..

"Aku pernah menyelinap masuk di kelasmu, dimana kamu dikarantina lama untuk OSN Fisika, and i found your book. Buku mapel Bahasa Indonesia yang kamu tumpuk dari kelas satu sampai kelas tiga. Mataku menyipit tersenyum membaca deretan tulisanmu yang jauh lebih rapi daripada tulisanku. But afterall, it wasnt so special... until i found something interesting. 

Aku membaca bukumu dengan seksama dan taraaa... ternyata kamu sering menggunakan tanggal lahirku dan mengambil nama depanku untuk tugas-tugas yang diberikan guru kita. Aku sangat tersanjung dan semakin bersemangat membaca bukumu dengan lebih teliti. Perjanjian tukar cincin, Alif Fikri, 24 September, 24 Oktober... bahkan kamu menulis lagu 'Si Alif Kecil' di halaman paling belakang. Kalau kamu ingat buku tulismu pernah hilang satu, itu karena aku๐Ÿ˜‚

Btw, aku juga pernah enggak sengaja buka-bukain folder flasdisk mu yang aku pinjam untuk acara Enhavagansa. Aku menemukan beberapa puisiku dari blog yang kayaknya kamu copy di notepad dan sedikit foto-fotoku hahaha.. Hey, do you really fallin love with me?"

Gue ingat bagaimana hebohnya teman-teman gue saat tau kalau kami satu lokasi SBMPTN, i mean kok bisa banget sih satu lokasi padahal ada puluhan even ratusan tempat ujian dengan ribuan manusia. Kemudian akhirnya dia menggapai impiannya, masuk ke sebuah kampus ternama di Bandung sana. Gue gagal ujian, tapi gue enggak sedih dan berbahagia untuk dia. Gue tahu dan yakin dia bisa berhasil di sana. Sedangkan gue baru merasa sedih dan kelabakan mikir apa yang akan gue lakukan atau universitas apa yang mau gua apply beberapa hari setelahnya, hahaha...

Intinya, gue sangat menikmati perasaan itu, jeles karena dia banyak yang suka, jeles karena dia selalu dapat nilai tertinggi, bangga karena dicie-cie sama dia, kadang bingung kenapa dia cuek, seneng sendiri karena dia (kayaknya) senyum ke gue dsb. Ya taulah, kayak botjah alay pada umumnya.. Lu sedih seneng semua disimpen sendiri atau gue tuangin di buku diary karena saat itu blog gue bocor ke anak-anak cowo (emang kampret si Coki -_-)

Dan yeah.. inilah yang akan gue ungkapkan pertama kali disini. Setidaknya, gue harap suatu saat nanti dia akan ingat blog ini, lalu tersampaikan semua apa yang gue simpan selama ini.

Hey... dont you think falling love with someone for long time it could be easy?

Sejak perpisahan kami selepas lulus SMA, otomatis gue enggak ketemu dia lagi. Dia di Bandung dan gue masih di Solo sebelum pindah ke Jakarta dan akhirnya berakhir di Yogyakarta. Kita berdua sempat saling kirim SMS selama ospek dan menyemangati satu sama lain. Gue inget banget, gue masih di kost-an temen dan gunting-guntingin kardus nggak penting untuk memenuhi keinginan panitia ospek.

"Semangat ospek ya!," kalimat sesimpel itu udah cukup bikin gue on fire meski harus pulang malem setiap hari.

Kemudian kami lost contact karena postingan gue di blog dan kata temennya itu bikin dia merasa sedih or something. But after that.. things happened constantly... until now

*God, i think i wanna cry right now.

to be continue......

Thursday, 29 April 2021

Surat Perpisahan I

Gue pikir level tertinggi mencintai seseorang itu adalah ketika hati merasa sakit banget jika yang kita cintai pergi meninggalkan kita untuk 'menjemput' seseorang.

Ternyata, yang ada Loe sangat berbahagia melihat dia bahagia, Ternyata Loe bisa mengesampingkan kesedihan Loe dan menerimanya dengan hati yang bebas.

Gue pikir level tertinggi mencintai seseorang adalah ketika Loe masih menunggu dengan sabar.

Memang iya. Tapi ketika penantian itu berakhir tanpa bersama, ternyata enggak apa-apa.

Sakit iya. Banget. Tapi bahagia lebih lagi. Seperti Loe udah purna tugas dan diwisuda dengan nilai sangat tinggi.

Ini move on terbaik...
Ini cara termudah...
Ini akhir terindah...

Tidak ada yang menjemput, meski ada yang terluka.

Ini surat perpisahan pertama. Gue akan menulis lagi sampai memori gue bener-bener bersembunyi di dasar sana.

Selamat tinggal....

Friday, 9 April 2021

Dugong Berevolusi

 Siang semuanya!!! Hari Jumat yang menggila berkat lembur-lembur di kantor ini entah kenapa bikin otak lucu gue ini bermuntjulan banyak ide baru (another wacana yang ntah terlaksana ato kaga di tahun 2021๐Ÿ˜‘)

Salah satunya adalah (again..again.. and again..) rutin ngereview sesuatu di blog ini. Biar isinya tydac hanya kealaian yang hanya akan jadi momentum AjaIB di masa depan hahaha...

Sekarang udah bener-bener suka skincare, kayak yang udah setjinta itu tjuy! Plus karena kondisi kulit gue normal dan badak level membara (even pernah 2 bulan make skincare udah expired karena ngga ngeh tapi alhamdulillah kaga kenapa-napa) , gue lumayan sering ganti brand sesuka hati  sesuai budget.

Mungkin juga next gue bisa ngereview film, series, etc. Pokoknya apapun deh biar blog ini tidak hanya diisi dengan kegoBLOGan gue.


Kapan mulainya?

Besok? Lusa? Minggu depan?


Karena diet juga selalu mulai besok HAHAHAHA

Tuesday, 30 March 2021

Boring

 Entah kenapa hari ini gue demotivation banget. Tanpa perihal apapun, tanpa tahu kenapa, dan enggak ada siapapun yang jadi penyebabnya. Pokoknya hari ini gue cuma mau diem aja, pengen sendiri, dan enggak mau ditanya apapun.

Padahal semalem gue barusan have fun sama Ines dan Nadicun, bisa ngakak dan ketawa sampai jam 10 malam. Kingkong putih gue sampai yang jagain kumpulan bapak Gojek saking bapak parkir udah balik ke rumahnya. Untung gue udah bayar duluan (biasanya dibelakangan kalo sama si bapak parkir karena dia udah kenal gue๐Ÿ˜‚). It was like our very last kumpul bareng before Ines will taken by someone in the next week, with a man who was our friend at the same school in junior high school.

Okey mungkin gue berpikir banyak hal, cuma berusaha gue tahan. Bukan takut masa depan gue mau dibawa kemana, jodoh gue siapa, gimana gue hidup berjalan (of course selain jadi duyung berenang)... it feels like... yah gue cuma pengen refleksi diri entah apapun itu.

Barusan temen kantor gue nanya kenapa hari ini gue kelihatan gloomy. Gue cuma jawab ngantuk karena kurang tidur. Untungnya muke palsu gue ketutupan masker kembang-kembang. Gue sipitin mata gue dikit udah kayak lagi senyum pas ngejawab, tentunya dengan sok-sokan hati tetap berbunga-bunga.

Woi Dugong, lu kenapa sih?๐Ÿ˜ข

Ya enggak tahu woi kenapaaaah. Pokoknya gue tiba-tiba feel so sad aja bambank! Mungkin banyak kenangan enggak enak yang membekas di gue dan sekarang lagi berusaha mengeluarkan ratjun sedihnya. Seharusnya sih salah ya, gue nggak boleh begini.

Btw, dompet gue juga lagi sedih euy. Pengeluaran gue banyak bats. Temen-temen gue satu persatu udah taken by someone or jadi emak. Temen gue si Fidi bilang, "Yaelah Gong, dari gue masih single sampai sekarang anak gue udah mau lahir, lu masih sendirian aja?"

Semprul bet emang sih ini๐Ÿ˜’๐Ÿ˜’๐Ÿ˜’

Hari ini langit juga sama cemberutnya sama wajah gue. Hujan gahabis dari semalem, bikin males mikir dan ngapa-ngapain. Kebetulan hari ini kerja gue juga ga banyak. SPV gue bilang minggu ini memang gue bisa sedikit menghela napas lega. 

Udah gitu aja, gue bingung mau bilang apa lagi

Thursday, 25 March 2021

Dugong with her lyfe

Halo Dugongers!!! Apa kabar semuanya??


Beberapa kali sih gue emang kepikiran untuk nulis sesuatu, tapi urung perkara gue yang (sok) sibuk luar biasa dengan segala perdramaannya. Anyway sekarang gue tidak lagi pekerja WFH tetapi merambah ke dunia paralel lain yang sudah biasa dilakukan orang-orang a.k.a kerja kantoran HAHAHA!


Di penghujung banget tahun 2020, gue yang sudah sangat lelah bekerja dari rumah memutuskan apply kerja lagi yang akan membuat waktu Dugong lucu ini lebih produktif dan tertata rapi. Kayak udah kenyang banget gitu lho gue kerja kesana-sini, kadang dapet cuan bisa buat beli rumah sampai yang cuma dikadalin doang.


Gue, Dugong imut dan manis, butuh cuan yang jadi pemasukan tetap. Secara nih ya, hobi dalam dunia perskincare-an udah enggak bisa ditahan lagi. Emang bener kata temen gue dulu, "Bebs, sekali lu nyemplung diskincare, lu mustahil bakal pergi." Ini aja udah untung gue belum tertarik ke makeup, bisa lu bayangin dong betapa banyaknya lagi pengeluaran dalam hidup gue ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Dan disinilah gue, akhirnya officially menjadi orang kantoran, jeeng.. jeeeng..!!

Dimana? Yes, gue masih di kota tercinta. Kayaknya sampai detik ini takdir meminta gue tetap berlindung di balik ketiak emak. Cuma emak gue bilang kagapapa, entar begitu gue punya gandengan, gue bakal dilepasin ke Samudera Hindia sekalipun ๐Ÿ’ฆ

So, elu bakal menjalani hal yang membosankan lainnya dong, Gong? Yah, gue nggak tahu juga apakah ini masuk dalam kategori bored activity. Berangkat jam 8 pagi, pulang jam 5 sore, dengan profesi yang sama (content writer), dan malemnya gue masih kerja di kantor gue yang lama dengan jabatan yang lebih naik lagi, editor dan PIC internship. Begitulah hidup gue sekarang sih dan tentunya harus lebih disyukuri. Plus, wifi kantor kan kenceng tuh, gue bisa curi-curi waktu buat nulis blog, nyari informasi, belajar sendiri, sampai ikut webinar kantor gue yang satunya. Pokoknya sih ini udah jadi ideal time buat gue.

PR nya tinggal satu, diet๐Ÿ˜…Salah satu keajaiban dunia nomor 8 yang belum gue pecahkan hingga hari ini. Ayolaah, gue harus menikah dengan gaun semanis cinderella yekan? Gue belum mewujudkan impian gue untuk punya style syari ala unnie-unnie kuriyaaa wkwkwk. 

Di masa ini, gue juga udah ada dalam masa ditanya sana-sini "Kapan kawin" atau kalau ada yang lebih ngaco lagi bakal ditanya, "Lu kapan tuker cincin ama si Paijo (misal namanye Paijo)."

Guys, gue juga mau kawiiin woy!!! Tapi kalo pangeran berkuda belum kunjung muncul di permukaan masak gue harus mengawini diri sendiri? Percayalah gue sudah berdoa sampai membelah diri kayak amoeba biar jodoh gue didekatkan. Masalahnya gue percaya Tuhan maunya gue langsing kayak sedotan dulu baru nikah biar wedding dress gue bisa sexy kayak duyung di laut๐Ÿ‘Š

Until now, menikmati kesendirian itu udah yang paling baik. Gue bisa naksir aktor korea ato hollywood tanpa harus menjaga hati siapa, bisa temenan sama banyak orang, dan untungnya anti baper imnida. Duit untuk diri gue, ngebahagiain orang di sekitar, sedekah, dan nabung sebanyak yang gue bisa.

Btw, gue tentunya jadi punya banyak teman baru dengan berbagai sifat dan kepala masing-masing. Di blok gue ada 6 orang, satu orang ceria kayak gue, satu kalem banget alias Ukhti-ukhti, satunya jago desain (yaiyalah dia kan anak multimedia), satunya maniak fotografi (Another makhluk multimedia), dan satunya lagi programmer peralihan yang labil alias kadang ikhwan kadang bakwan.

Dengan keberagaman manusia semenarik ini, kehidupan kantor seharusnya memang lebih berwarna. Yah, paling enggak gue udah nggak berdiam diri di kamar. Gue bisa ngelihat kehidupan jetset kota kecil gue setiap pagi dan saat sore karena rute jalan gue tuh jalan besar yang utama.

Kalau ditanya lebih bahagia gak sekarang? Bahagia dong! Kan apapun harus berusaha senang dan berpikir positif. Sekarang kalau diajakin main gue udah lebih enjoy karena nyambung dan enggak terlalu banyak khawatir.

Usia gue emang udah cukup uzur yah buat masih nggak memikirkan pernikahan dan segala bengeknya. Cuma gue percaya aja kalo garis tangan kayak gini tuh udah sejalan seperti yang terbaik kata Tuhan sih.

Gue belum move on yaudah gue senyumin aja. Daripada pusing iya nggak?


Monday, 22 March 2021

Bayanganmu

 Hai...


Sekali lagi kita bertemu dalam mimpi-mimpi yang sunyi

Tahukah kamu, semalaman aku sulit untuk tidur

Jam dindingku berdetak hening menuju angka 2

Setidaknya saat itulah aku mulai dapat terlelap


Sekali lagi, melihat hadirmu

Seperti biasa, begitu tampak nyata

Aku bermimpi seseorang ingin memintaku menjadi miliknya

Meskipun tanpa cinta, aku tetap menerima pinangannya


Dan disanalah kamu, tersenyum tulus memandang lurus ke arahku

Tadinya aku berharap kamu akan berlari menggenggam jemariku

Namun, kamu hanya diam membisu, tersenyum dengan mata jernihmu yang sendu


Matamu... yang selama ini menjadi bagian favoritku selain wajah teduhmu


Aku bersedih dalam cerita itu

Seolah tubuhku menolak untuk seseorang selain kamu

Kemudian aku menghampirimu, mengajakmu pergi dari hiruk pikuk orang yang berbahagia atas hariku


"Aku perlu bicara sesuatu," pintaku saat itu

Kamu hanya mengangguk seolah tahu apa maksudku


Dan disanalah kita, di suatu tempat entah dimana

Bersembunyi dari situasi yang membingungkan ini


"Aku ingin berterus terang bahwa dulu aku mencintaimu.."

Bibirku bergetar saat berbicara demikian

Mataku menatap getir pada wajah tenangmu yang masih saja tampak istimewa untukku


Kemudian kamu menunduk dalam diam

Dengan pelan membalas ucapan

"Aku juga... aku sama.. aku cinta.."


Hatiku terasa sesak oleh jawaban yang selama ini aku tunggu

Sebagian hitam diriku terus menerus bertanya mengapa baru sekarang?


Aku bertanya, bagaimana dengan sekarang?

Kamu menatapku seolah mengatakan semua masih sama


Kita saling bergenggaman tangan tanpa menatap satu sama lain

Terbata-bata aku masih berusaha mencerna kesimpulan

"So... so we both fallin in love... we are same.. we.."

Aku tak sanggup menyelesaikan kalimatku

Pahit rasanya

Kelu lidahku


Aku hanya menggenggam jemarimu semakin erat

Membahasi kedua tangan kita dengan air mataku


Aku tersedu dalam ketakutan

Dan kini wajahmu tampak muram


Hai... bagaimana ini?

Apakah aku akan benar-benar seperti itu dalam kenyataan?

Tidak bisa melupakanmu dan terus-menerus lari dalam perasaan?


Aku harus bagaimana?

Aku harus berbuat apa?


Telah kupanjatkan senandung rinduku bertubi-tubi pada Yang Kuasa

Jutaan purnama telah aku lalui dengan mendekap erat segenggam cinta yang tidak sudi mau pergi


Kembalilah...

Sembuhkanlah...


Aku masih saja merajuk dengan bayanganmu


Entah mengapa aku semakin rindu


Sore ini hujan akan datang lagi

Mengguyurku yang berjalan pelan dengan kingkong putihku yang menyusuri jalanan


Sekali lagi, memaksaku untuk mengenang jejakmu dimana-mana..

Wednesday, 17 March 2021

Surat Cinta Dari Penjagamu

 Hai..

Kamu datang lagi dalam malam-malam sibukku

Apa kabar disana?

Kulihat engkau begitu bahagia dengan duniamu yang baru

Kulihat senyummu kembali merekah

Tak seperti terakhir kita bersua

Cahayamu tertutupi dari entah mengapa


Mungkin kita sama-sama sedang berlari impian yang dahulu

Mungkin pula tanahmu adalah hasil gerusan logika

Mungkin juga aku terlalu nyaman untuk berpindah


Dan disinilah kita.. atau mungkin hanya aku

Sekali lagi, entah dari berapa purna, mengenang jejakmu dimana-mana

Tidakkah engkau lelah mengunjungiku dalam bayangan?


Atau... hanya aku yang terlalu terpaku dalam kisah masa lalu?


Ini bukanlah memori yang menyenangkan

Disaat aku hanya bisa termangu dalam impian

Impian untuk menggapaimu... setidaknya dahulu


Kamu selalu tersenyum dalam mimpiku

Namun, belakangan ini kamu nampak tidak lagi peduli padaku

Kulihat diriku berusaha mencarimu..

Mengejar bayanganmu...

Kemudian terbangun dalam derasnya keringat yang ada di keningku


Aku harus mengaku padamu

Kamu masih ada dalam otakku

Entah apapun itu definisinya

Kamu tidak mau pergi dari sana

Kamu menancap dalam setiap memori remajaku

Memenuhi lantunan doaku yang kini entah ditujukan untuk siapa

Tidak berani membuka lembaran baru dengan entah siapa


Menurutmu apakah aku akan terus hidup seperti ini?

Menanti sesuatu yang tidak pernah pasti?


Menurutmu apakah aku akan terus hidup seperti ini?

Menunggumu datang pada mimpi setiap kali aku bersedih?


Rasanya seperti memeluk angin

Tak tampak dan tak terasa


Rasanya sepeti berjalan di atas awan

Bisa jatuh sewaktu-waktu


Apakah aku marah?

Entahlah!

Kepada siapa aku harus marah?

Bukan pilihan kita untuk punya cerita yang panjang


Lalu apa mauku?

Entahlah!

Kepada siapa aku harus memaksa tahu akhir cerita kita?

Aku terlalu takut untuk mengetahuinya


Bagaimana bila aku berhenti mencintaimu? Kamu lalu pergi

Bagaimana bila kamu berhenti mencintaiku? Aku lalu pergi


Bisakah... bisakah kita berdamai?


Aku akan bersabar hingga cintaku pudar dengan sendirinya

Aku akan tegar bila bukan kamu yang akan menjemputku

Kamu harus bahagia, begitupun aku juga



Kau, ditakdir manakah kita akan bertemu?


Kau, di dunia manakah kita akan bersatu?


Bolehkah aku meminta belas kasih Tuhan untuk menjagamu?

Menjagamu saat kamu terluka

Saat kamu merasa sakit

Saat kamu bersuka cita


Menjagamu... bila kelak kamu tidak lagi menemuiku

Menjagamu.. bila nanti kamu berhenti menjadi bayanganku



Friday, 18 December 2020

Laksamana Bulan

Kala hujan menyapaku
Lalu kamu bersenandung sebuah lagu
Tidak ada yang membuatmu malu
Kecuali bila aku memergoki kamu

Kala berada di hutan rimba
Kamu berkelana di dalam sana
Entah apa yang sedang kamu cari
Aku ada di sini mengawasi

Kala matahari mulai congkak dengan sinarnya
Kamu keluar dari persembunyian
Memanggul kayu dan tumpukan sutra
Menuju sungai yang panjangnya tak terkira

Lebih-lebih rasanya berat
Meninggalkan senyummu yang jarang disunggingkan
Tapi Ibu bersiul lantang
Pertanda aku harus segera kembali

Mereka memanggilmu laksamana muda
Pedangmu nampak bangga engkau sampirkan
Sesekali kau mandikan lautan darah
Kau hunuskan dengan begitu marah

Kau kembali...
Dari pertapa ribuan hari
Itulah bulanmu
Masih menempel setia pada langitnya
Sesekali malu-malu bulanmu itu
Mengiris dirinya sendiri hingga nyaris segaris kuku

Aku rindu seruling bambumu

Yang rupanya terus kau tiup begitu merdu
Membuatku rindu...

Ibuku kembali berteriak
Memecah antara rasa dan asa

Suaranya tercekik
Jemarinya menusuk ke arah angin
Bibirnya susah payah berseru ngeri

"Pembunuh...pembunuh...."

Hari ini pedangmu membisu
Ia tak lagi nampak bangga terhadapmu
Dendamku berada di atas awan
Pada tebasanmu yang membekas nyeri

Rupanya Kaulah tanda tanya pada keluargaku
Penyebab ayah pergi tanpa basa-basi

Kamu tak lagi menjelma tanda titik pada ceritaku
Aku butuh koma dan tanda seru

Aku memeluk kepalamu yang terbelah

Selagi tubuhmu dikoyak nelangsa...

Monday, 14 December 2020

Dugong Curcol

 Fiuh, finally bisa nulis di sini lagi. Tadinya gue panik karena blog sama sekali nggak bisa dibuka. Bahkan gue browser ke google aja juga tetep nggak mempan. Gue udah panic to the max kalau-kalau ini blog diretas orang.๐Ÿ˜ช๐Ÿ˜ช Tentunya ditemani hujan rintik-rintik favorit dan lagu-lagu mellow (saat ini yang keputar adalah Reflection-nya Disney Mulan) , gue pengen ngobrol sama kalian semuanya.

Dua hari lalu, gue ketemuan sama salah satu temen deket pas SMP. Gue pikir ini orang kenapa yah tetiba ngajak ketemuan yang kayaknya serius banget? Dan feeling ge terjawab ketika dia bilang lagi taaruf ama orang dan minta pendapat gue.

Dari sana, gue lagi-lagi kesentil dengan fakta bahwa gue sedang dalam masanya membicarakan about marriage bukanlah hal yang tabu, sok dewasa, ataupun kejauhan. Justru aneh dan nampak idealis kalo gue yang belum orientasi 'ke sana' koar-koar bilang, "Ahelah gue mah belom pengen.."

Ada dua hal yang selalu gue tanyakan kepada mereka yang akhirnya memutuskan untuk taken by someone.

1. "Apa yang bikin elu yakin this is the right time to do?"

Kebanyakan dari teman-teman gue akan jawab sesimpel, "Gue udah siap." Kesiapan setiap orang dalam melangkah ke sini bisa beda-beda sih. Siap secara mental, siap karena udah ada calon, sampai yang paling ngaco kayak mumpung pandemi nikah murah๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Hidup di lingkungan yang relijius, biasanya temen gue pada memilih taaruf sebagai jalan ninja menggapai jodoh. Beberapa diantaranya sebetulnya nggak ingin nikah dulu, tapi karena dihadapkan 'proses' yang jauh lebih cepat dari yang dia duga, kemudian ketemu si cowok dan cucok meong, menikahlah mereka.

Terus terang, untuk step satu ini sepertinya tidak akan gue ambil. Bagi gue akan lebih nyaman menikahi orang yang memang gue kenal dari cycle sosial (meskipun ya taaruf bisa juga kan dari sini). Hanya aja tetep gimana gitulah kalau pake proses taaruf tuh. Sepertinya, mereka yang memilih jalan ini, sedikit banyak memiliki karakter yang sama, terutama di bagian 'ideologi'nya. Of course, siapa yang enggak pengen punya jodoh yang baik? But, it just doesn't fit on me and my world is too different from that.

Belakangan, gue berpikir  mungkin bertemu jodoh seperti surprise juga lebih menyenangkan. Tahu kan? Kayak menikahi seseorang yang lu kagumi dari masa lalu, atau ketemu pelajar bule ganteng di toko buku, nikah ama artis terkenal, sampai nggak sengaja nabrak orang yang ternyata bakalan jadi our future, etc. halu bet๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

Terus apa yang membuat gue tidak segera menikah? Hmm.. lebih tepatnya adalah i need to deal with myself first. Gue merasa belum clear dengan diri sendiri, belum dewasa, dan kemungkinan terbesar adalah memang belum siap secara apapun. Seorang temen gue bilang, "Jodoh itu datang bisa kapan saja, enggak melihat lu siap apa belom karena selamanya orang nggak bisa beneran dibilang siap 100%."

Ini ada benernya, tetapi let's we talk in reality. My salary is not enough even for me, so I wont hurt my husband if someday i push him without realizing it. I am still fatty and i keep trying everything to deal with it, and I wont my husband says I am ugly when I knew he is right. Dan masih banyak kekhawatiran gue, again.. sebagai makhluk berenang yang biasa. Boleh dong gue takut dan cemas sana-sini? Kan gue manusia dengan segala keterbatasan yang ada. Asalkan gue tetep on path  enggak jauh dari Tuhan, gue rasa berkeluh kesah sama Allah sampai gue puas curhatnya enggak apa-apa. Kalau kata Ibu, apa-apa mah Allah aja, kalau nggak bisa ke Allah lagi, kalau sedih ke Allah, semuanya pokoknya Allah, entar biar Allah mampukan atau ambil alih.

I just want to love myself first.. Be the new Me.

Pernikahan akan menjadi bad idea for this time. Setidaknya dalam otak gue as human.


2. "Hmm.. bagaimana tentang finansial, adakah elu ketakutan nggak bisa maksimal?"

Mau enggak mau gue akan sampai pada pertanyaan ini. Again, most of time temen gue bakal ngejawab, "Nggak masalah, rejeki bisa dicari." Yep, ini sangatlah benar. Tapi lagi-lagi, gue merasa akan lebih safe kalau ada perencanaan dalam hal ini.

Gue dan adek bungsu gue dididik dalam era yang berbeda, dan parenting yang lain juga. Saat gue lahir, bapak gue lagi merintis karirnya dalam dunia wartawan. Ortu gue Long Distance Marriage antara Yogyakarta-Jakarta. Ibu gue pernah cerita betapa susahnya dulu hidup meski untuk makan. Kami bahkan pernah tinggal di rumah sewa murah tapi ternyata angker yang bikin gue teriak tiap maghrib karena digangguin. Once, my mom was hit me because i drop our very last meal that day. Gue masih tiga tahun, jalan berduyut-duyut. Ibu gue yang masih muda ngegandeng gue di tangan kiri, bawa payung di tangan kanan sambil gendong adek cewek gue yang gendut banget. Sore itu hujan deras dan guelah pembawa rantang makanan yang barusan kita beli di tetangga sebelah. Rantang itu panas dan selalu nyenggol paha gue sampai akhirnya nggak kerasa tumpah di jalan. Sampai rumah Ibu gue cuma bisa nangis dan gue masih nggak paham apa yang terjadi.

Adek bungsu gue lahir dalam kondisi perekonomian yang sangat baik dan terutama Ibu sudah lebih siap. Sekarang dia sudah remaja dan bisa dibilang jauh lebih cerdas ketimbang dua kakaknya. Dia ngerti cara manaj uang, berpikir maju, cenderung lebih sensitif, suka berbagi, dan kaya akan kondisi di sekitarnya. Intinya dia bisa sangat survive.

Mungkin gue nampak bertele-tele, tapi intinya adalah I wont to raise my kiddos when i am in week situation. Gue tidak ingin mendidik mereka dengan bilang, "Nak, jangan beli mainan itu dulu, ibu belum ada uang." which i was. Gue ingin banget suatu saat nanti hanya bilang, "Yes we have money for that, but think about this! You still have more than that. Maybe you can share it first to poor kiddos and then we can buy it if you still want."

Jujur, bicara seperti ini gue merasa bersalah dengan teman-teman yang bilang rejeki sudah ada yang atur. Memang Allah always know the best for us.. namun gue sebagai manusia hanya ingin berusaha lebih siap. Gue tidak mengharapkan seseorang yang sudah mapan seandainya belum. Tidak pula harus udah punya ini itu. Tapi gue berharap dia tahu dan sadar bahwa kalau ini clear, paling enggak kita bisa lebih sehat secara hal lainnya juga. 

Pada akhirnya, larinya ke Allah juga. Kalau aja Allah bolehin gue di posisi yang lebih siap..

Gue sedang belajar dan bertumbuh, mencari apa yang sebetulnya betul-betul gue mau dan ingin diwujudkan. Masih terngiang-ngiang kalimat Aoi dalam benak gue, "Be patient with urself, and put your mind at ease." Gue percaya, Tuhan tuh ngerti banget apa yang paling tepat buat apapun dan siapapun. Jangan sampai keluar kalimat gue enggak layak karena Allah bisa aja memantaskan buat kita.

Aa Gym pernah ngomong, "Berprasangka Allah nggak ngasih ampunan sama dosa kita itu nggak baik. Karena Allah itu Maha Pemaaf. Minta aja, tobat, istighfar, Allah selalu dengar. " while Deny Sumargo juga ngomong dalam youtube-nya, "Manusia suka bertindak seakan Tuhan, sulit memaafkan diri dan memaafkan orang lain. Padahal Tuhan aja pemaaf banget."

Oiya, gue jadi inget momen ini, dimana gue lagi nge down banget (iya lagi-lagi gue ngedown. Emang yah proses pendewasaan tuh sakitnya bukan main). Pas gue sholat, gue nangis sejadi-jadinya dan cuma minta satu hal, gue diberi petunjuk jadi orang yang jauh lebih baik. Nggak main-main, gue lebih ke nodong Allah daripada memelas๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ 

"Kenapa sih ya Allah, aku tuh capek hidup kayak gini. Aku kurang apa? Kasih tau! Layakin! Aku capek hidup kayak gini! Ya Allah, plis lah, aku ditolong. Aku minta maaf dosaku banyak. Kalau rejekiku habis, kan seharusnya aku mati. Kenapa masih hidup? Seharusnya berarti rejeki ku ada, turunkan dong! Ya Allah aku mau jadi orang lebih baik. "

Kira-kira seperti itu curcol gue waktu itu. Btw emang cara gue berdoa kayak gitu, gue ngerasa biar deket sama Allah layaknya sahabat sendiri.

Dan malemnya gue mimpi sesuatu. Ceritanya gue kayak lagi di sekolah tahfidz gitu, tempatnya di tengah perkebunan, ladang, sawah, apapun itulah. Disitu gue ceritanya kayak nunggu setoran hafalan sambil gendong bayi cowok yang ganteng banget. Wajahnya lucu, badannya gemuk sehat, kulitnya putih bersih, suka ketawa. Tapi setiap digendong orang lain dia bakal nangis jerit-jerit. Akhirnya ini bayi-yang-entah-siapa-bapak-ibunya gue bawa kemana-mana. Kemudian tibalah saatnya gue harus maju hafalan.

Entah kenapa, seorang cowok datang ngehampiri gue untuk gendong itu bayi. (Btw gue sangat mengenal cowok ini karena dia yang hampir selalu jadi lakon utama yang gue ceritakan di blog ini ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ). Ajaibnya, bayi ini diem nggak nangis lagi, justru tenang banget di gendongan dia. Serem nggak?

Terus gue buru-buru ke ustadzah gue untuk setoran. Cowo itu ada di sebelah gue, masih dengan bayi ini. Namanya mimpi ya, alurnya nggak terlalu jelas. Yang pasti, ada satu ayat yang selalu diulang-ulang ustadzah gue, dengan kode 88:9. Gue langsung kebangun dan mendapati gue masih di kasur. Jujur gue deg-deg an banget dan badan gue sampe bergetar saking merindingnya.

Setelah gue udah lumayan sadar, gue segera nyari Al Quran (atau search on google, gue lupa), dan ternyata ayat inilah yang ada di mimpi gue..

                                                                         ู„ِุณَุนْูŠِู‡َุง ุฑَุงุถِูŠَุฉٌ

                                         “Mereka senang karena usahanya (sendiri)”

QS. Al Ghasiyah:9

Saat masih di dunia mereka beramal shalih, mereka shalat, berpuasa, membayar zakat, berhaji, mereka membaca Al-Quran, mereka menjaga diri dari hal-hal yang haram, sehingga di akherat Allah menampakkan balasan-Nya dan mereka ridha dengan balasan tersebut.(https://firanda.com/3640-tafsir-surat-al-ghasyiyah-tafsir-juz-amma.html )

Lu merinding nggak? Sama, gue juga๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Mungkin sejak itulah gue belajar agama lebih rajin. Kalo dulu males baca buku fiqih, siroh nabi, dengerin ceramah, sekarang udah lumayan keren lah dibandingkan kemarenan wkwkwk. Kajian yang gue paling sering denger dan favorit adalah Aa Gym (biar hati adem),  Dr Zakir Naik (karena dia sering jelasin tentang sains dan teknologi dalam islam. Gue dengerin beliau juga karena temen bule banyak yang belum kenal islam dan sering nanya ke gue ini itu), Syeikh Abderrouf Ben Halima (ruqyah jin),  dan yang baru-baru ini adalah Ust Khalid Bassalamah.

Hei gue versi 5 tahun besok yang mungkin baca ini dan udah gendong anak! Lihat  nih gue lagi berupaya biar kita bahagia besok!

Tuesday, 24 November 2020

Poppy is a dog


Poppy is a dog

We found him near the forest

His body has a lot of scar

Maybe he had fight with others

His eyes was bleeding

But Poppy was okay


Poppy is a dog

We operated him about 3 hours with me as the surgeon

He opened his eyes after i call him "Poppy wakey.."


Why his name is Poppy?

He likes to pop up and surprising people

He likes pop up books

He will barking after "Poperanian song" plays

He always sleep near pop star picture in my room


Poppy is a dog

Everbody loves Poppy

He will approach our patients in our clinic

He is so attractive

All people, except me..


Poppy is a dog

And that is why i dont like him

I am a veteranian

But dog is not my favorite

When i was child, a giant dog bite me

So why i am here now?

I do not know


Poppy is a dog

My friend says, "He likes you, doc!"

But i never want him to touch me

He always play around near me

He sometimes eats my popcorn

Oh Poppy, stop!

You will never get my attention


Poppy is a dog

He likes me but i do not like him

My friend says, "He knew who did save his life!"

But i never want him to say thankyou

I am a veteranian

And dog is not my favorite


Today is raining

I run to the clinic

But someone almost hit me with his car

.........

Poppy is a dog

He likes to pop up and surprising people

He likes me as his life saver


Now he is save my life


Poppy is a dog

Now i like him

But he will never pop up anymore


 

 
Catatan Lebay Seorang Dugong Blogger Template by Ipietoon Blogger Template