Showing posts with label poems. Show all posts
Showing posts with label poems. Show all posts

Sunday, 23 November 2025

??!!

What a funny world…

A few months ago, I was convinced we had drifted too far apart.
That our story had quietly reached its ending.

I told my friend once that I’d lost you... in everywhere.
No chats, no groups, no replies, nothing.
Even work couldn’t bridge the gap.
It felt like you disappeared from every corner of my life.

I lost you, too… in every possible way.
I couldn’t find you, even when you were standing right in front of me.

And yet, here we are now.
Somehow trying to reconnect,
rebuilding the boundaries we almost let slip away.

I’m not placing any hope on this.
If it doesn’t fall into place like it used to,
at least we won’t hurt each other again.

But you know something?

I adored you long before I realized it.



Damn, I knew it.

Saturday, 22 November 2025

See You When I See You, Jamet!

Jamet goreng lagi jatuh cinta..

dan mereka udah jadian.


Maka di saat itulah, gue udah mempersiapkan diri untuk kami pasti gak deket lagi.

Dunianya baru.

Di mana-mana, dunia baru itu emang lebih menarik untuk dikulik.


Lagian, gue udah punya pengalaman ditinggal orang karena asyik sama dunia baru.

Tapi hidup gue sendiri pun harus tetap berjalan kan?

Ternyata sih, bisa dihadapi dengan tenang.

Sedih sebentar, habis tu biasa-biasa aja.


Once day, gue pernah ngomong gini sama Jamet,

"Kita sedeket ini, pisahnya karena apa yak?"


Ohh... ternyata karena ini.

Wednesday, 16 July 2025

Selamat malam, Tuhan

Selamat malam, Tuhan..

Maafkan 17 sujudku yang singkat hari ini. Tak kujemput pula waktu duha dan sepertiga malammu karena aku begitu layu.

Padahal, seperti yang kukatakan, aku sedang layu.

Aku membutuhkan Engkau, ya Tuhanku..


Hai, Tuhan..

Maafkan doaku yang begitu cepat hari ini. Bahkan, selepas olahragaku, dalam sujud Isya-ku, tetap saja tak kuperlambat doaku.

Sebaliknya, cepat-cepat kubuka laptopku, mengetik di sini doaku hari ini.

Kulantunkan urusan duniawiku pada-Mu.


Tuhan, Engkau pasti tahu sebab aku menahan tangis hari ini.

Pada hal-hal yang tidak kusukai dan aku takuti.

Engkau paling tahu kedalaman hatiku sebelum aku tahu terlebih dahulu.


Engkau tentu tahu sebab aku kesal dan mengeluh pagi hari ini.

Hanya saja, tak berani kuminta apa-apa kepada-Mu, Tuhan.

Sebabnya aku malu pada ribuan manusia-Mu yang bermimpi menjadi sepertiku (mungkin).

Aku duduk termenung, melawan perasaanku dalam diamku.


Ah, Tuhan! Engkau mengerti saja yang jadi kebutuhanku.

Kau kirimkan dua pesan indah dari dua orang kesayanganku.

Aku tercekat, membaca hiburan 'kecil' yang Kau kirim agar aku tersenyum lagi.


Tuhan... hari ini rasanya begitu cepat berlalu.

Pada urusan duniaku yang begitu berat, aku terkadang lupa kepada siapa aku harus berpegang erat.


Adalah Engkau, Tuhanku..

Engkau yang memberi rasa bahagiaku satu menit lalu.

Kau juga yang mengambil rasa senangku satu menit kemudian.

Engkau yang mempertemukan aku dengan manusia di sekitarku.

Kau juga yang telah dan kelak akan memisahkan mereka dariku.

Mengapa pula aku risaukan hal-hal kecil padahal Engkau lebih besar?


Tuhan, aku lemah pada dunia.

Aku mulai kehilangan arah pada ketakutanku yang manusiawi.

Kutahu Engkau banyak maklum dan pemaaf padaku.


Tuhan, banyak hal terasa mulai berat, sekuat apapun aku berjalan dan melawan.

Senyumku mulai memudar lagi, entah mungkin lupa pada begitu banyak karunia-Mu untukku.

Hari ini, biarkan aku jujur pada Engkau Tuhan..

Sebab, percuma saja aku menutupi, Kau telah tahu isi kedalaman hatiku sebelum aku sendiri.


Biarkan aku jujur kepada-Mu..

Bahwa tantangan-tantangan yang Kau minta agar aku berani dan lebih kuat, kini mulai goyah.

Seringkali aku lupa bahwa menengadah meminta bantuan-Mu harus sesering mungkin kulakukan.

Aku sibuk menerobos jalan tanpa tujuan dan petunjuk.

Yang aku tahu benar... yang aku rasa benar.. yang aku kira benar..


Padahal, Engkau Maha Pengasih.

Sebanyak apapun kesalahan yang kulakukan, Engkau tak pernah egois.

Maafkan aku Tuhan.. menggunakan logika manusiaku yang terbatas dengan tak meminta bantuan-Mu.


Padahal, semestinya untuk satu tarikan napas pun aku tak boleh sungkan meminta.

Untuk satu suap nasi, aku tak boleh takut meminta-Mu.


Tuhan... pada hatiku yang punya banyak kecemasan, leburkan malam ini.

Pada keyakinanku yang mulai bimbang, kuatkan mulai hari ini.


Tuhan, pada ketidaknyamananku, nyamankan mulai detik ini.

Pada hal-hal yang aku lupa syukuri, ingatkan aku mulai saat ini.


Tuhan, aku tahu Kau tak pernah bosan mendengar ceritaku, urusanku, orang-orangku, itu-itu saja.


Terakhir Tuhan sebelum kututup laptopku,

bangunkan aku nanti malam.


Hari ini, tak sedang kumintakan doa untuk orang-orang yang kusayang.

Bolehkah aku memanjatkan doa nanti malam hanya untuk diriku seorang?


Selamat malam, Tuhan.

Mimpikan yang indah untukku.

Sunday, 6 June 2021

Surat Perpisahan III

 Hahaha butuh tambahan waktu beberapa hari untuk gue memutuskan dan menyelesaikan tulisan ini, mempertanyakan apakah this is the right decision to share this story here. It' onoe of my deepest secret, my precious book...

Tapi gue akan tetap nulis, karena sepertinya ini akan membuat gue lebih lega dan plong untuk melepaskan sesuatu yang udah bertahun-tahun melekat dengan gue. It takes time and it has to be cut off from now... even if its really hard and hurt me...

So, here is the story...

As i said before, gue udah lost contact dan hampir nggak pernah ada kesempatan ngobrol lagi setelah lulus SMA dan kami beda kampus. Oke, pernah sih ketemu 2-3 kali. Pas itu gue ke Bandung dan dia ikutan makan malam sama keluarga gue bareng Lupong. Yang kedua kami ada meeting buat acara alumni di Solo dan gue sempet cuma berdua sama dia karena pada ngaret (emang pada kampret -_-) Tapi ya yaudah selain itu beneran enggak ada. 

So, this is how the complicated things started happened to me...

Sejak kami lulus SMA, gue mulai bermimpi tentang dia, padahal pas masih satu sekolah malah hampir nggak pernah. Awalnya tuh gue pikir ah karena gue terlalu kangen sama dia, kan 12 tahun satu sekolah jadi kayak belum terbiasa. Tapi lama kelamaan mimpi itu kerasa punya cerita, momen, dan situasi yang janggal.

Gue urutin kronologinya ya.

Gue sebut fase pertama mimpi ini "recalling a memory'. Karena di mimpi itu kami kayak malu-malu banget dan faktanya pas masa sekolah kami emang kayak gitu.  Ada temen-teman yang cie-ciein, kalo ketemu suka merah mukanya dsb. What i felt in that phase? Gue kadang suka kangen sama dia. Rasanya kayak semalem gue visit ke masa lampau dan merasakan bahagianya seperti apa.

Kalau gue lagi ulang tahun, dia akan datang ke mimpi gue untuk ucapin happy birthday. Pas gue lagi sedih, dia bakal datang hibur gue. Kalau gue lagi butuh semangat, dia datang buat gue. Dan ini terus berlangsung sampai beberapa tahun setelahnya (even last night), saat gue udah punya kehidupan baru dan aktifitas baru tanpa dia.

Hingga tahun ketiga selepas kami lulus, gue selalu mimpi dia kayak recalling masa lalu kami. Ketemu di SMA, ketemu di SD kami, ketemu pas SMP, dsb. Pokoknya tuh kayak gue balik lagi ke masa dulu.

Fase kedua gue namain "Why Me?" dimulai saat udah tahun ke empat. Mimpi gue juga mulai berubah cerita, kalau tadinya recalling, ini lebih banyak sedihnya. Ada salah satu satu mimpi yang sangat gue ingat dengan jelas hingga hari ini.

Waktu itu kami nggak sengaja ketemu di daerah tempat gue tinggal. Dalam mimpi, gue memutuskan untuk ninggalin dia. Kemudian dia datang dengan wajah sedih dan nanya ke gue, "Kamu masih ingat janji kita?" dan itu terus dia uang-ulang. Bangun tidur badan gue penuh keringat dan butuh waktu beberapa saat untuk fokus lagi kalo it wasn't real.

Pernah suatu hari gue deket sama seorang cowo. Pas gue berusaha mulai buka hati, dia akan datang ke mimpi gue dan berusaha mengacaukan niat gue untuk melupakan dia dan bikin nggak bisa move on. Selalu kayak gitu. Di titik ini gue mulai menyadari, ada yang salah dengan diri gue atau kami punya koneksi aneh yang enggak bisa dijelaskan hingga hari ini (entah kalo dia gimana).

Btw, i am so sorry for this. Aku terpaksa bohong sama kamu kalau aku depresi, padahal aku enggak. Aku enggak siap ketemu kamu setelah bertahun-tahun dengan semua mimpimu. Aku enggak siap ngomong dengan kamu seolah nothing was happened to us, to me... Aku takut aku akan berharap lagi sama kamu, mulai sayang kamu lagi, dan ketakutan-ketakutan itu membunuhku suatu saat nanti.

Gue jujur agak tersiksa di periode ini. Di saat kuliah gue sedang sangat menggila tugasnya, organisasi banyak duty, engga sempet main, dan asdos yang bikin gue kadang harus transkrip banyak data, pokoknya gue jadi gampang badmood dan nyalahin dia setiap mimpi itu datang.

Gue pernah nangis dan teriak, "Kamu maunya apasih?!!!" saking frustasinya. Seolah lu banyak pertanyaan tapi kayak enggak ngerti apa, enggak ngerti cara nyari jawabannya, dan semua jadi serba salah. Gue cuma bisa stalking dia dari medsos, curi dengar sana-sini tentang kabar dia yang makin keren di Bandung sana. Gue stuck untuk mencintai seseorang karena dia kan datang memperingatkan gue dengan wajah sedih dan di sisi lain gue nggak juga berhenti membandingkan dia dengan orang lain. Like he is so perfect why i need another man? I dont have any friend to share with..

Di part kedua ini gue merasa dia mulai menyakiti gue secara mental. Semua mimpi yang enggak gua inginkan, menimbulkan angan yang menyebalkan, dan praduga-praduga. Belum kalau ketemu teman-teman dari SD-SMA, gue akan terus disandingkan sama dia.

Mimpi part ketiga dimulai saat gue beneran move on, gue namain "Halucination". Why? Karena di sini adalah waktu dimana Gue mulai benar-benar terbiasa tanpa dia dan jarang mikirin lagi. Meskipun begitu, dia akan tetap selalu datang di mimpi gue. Kadang seminggu tiga kali, setiap hari, sebulan sekali, sampai tiga bulan sekali. Intinya enggak menentu.

Btw, di postingan sebelumnya gue pernah cerita tentang mimpi ajaib gue. Dan cowok yang gue maksud gendong bayi itu adalah dia hahaha...

Dia datang dengan cerita yang berbeda. Enggak recalling, enggak sedih, tapi justru hal yang kayaknya nggak akan mungkin terjadi, yaitu akhir yang bahagia bersama. Kadang gue mimpi kami kayak udah nikah dan orang-orang berbahagia buat kita. Kadang dia genggam tangan gue, berpelukan seolah pasangan sejati.

Gue pernah mimpi dia datang ke gue dan tanya, "Gimana caranya minta kamu ke bapakmu?"

Sebelum gue menginjak ke mimpi fase keempat dan kelima, sampe disini elo pasti bingung, like seriously gue mengalami itu bertahun-tahun? Yes, i swear. Gue cuma cerita ke orang-orang yang paling terdekat. Pernah pas gue frustasi, gue sampai marah dan teriak, "Kenapa sih kamu enggak berhenti jadi bayanganku? Kalau masih ada yang belum selesai, bilang, jangan giniin aku!"

Dan inilah part terberat... maybe it started from 2 years ago? Mimpi fase keempat, "His message." Jujur, gue nggak tahu apa yang terjadi. Mungkin di kehidupan nyata, dia udah mikirin nikah? 2019 atau 2020 kira-kira.

Waktu itu gue kayak lagi main bertiga sama dia dan Faiz (sobat gue dan temen satu SMA juga). Disitu tiba-tiba dia bilang gini, "Kamu kalau cari suami harus orang baik, biar kamu ikutan jadi baik. Kamu harus bahagia."

Disitu gue sedih dan tanya, "Kamu udah ketemu (sama jodohmu?)", dia bilang udah. Gue tanya lagi apakah dia udah kenal sebelumnya? Apakah itu teman satu kampus? Dia jawab "Iya."

Kemudian setelah sekian lama gue mimpi lagi, bulan Desember 2020 kalo gak salah. Intinya gue lagi-lagi mimpi dia mau nikah.

Suatu malam lain, gue mimpi dia datang ke acara lamaran gue (lah gue lamaran?). Disitu dia ada karena kebetulan calon suami gue orang sekampus dia juga gitulah. Disitu wajah dia bahagia banget, padahal gue sedih. Terus pas acara lamaran selesai, gue panggil dia untuk melipir ke suatu tempat and he said okay. Ketika udah di tempat yang sepi, gue tiba-tiba nangis dan tanya lirih, "Kamu dulu mencintai akukah?" Dia agak terdiam sebelum bilang dengan suara yang sangat pelan, "Iya.." Kami berdua sekarang menangis dan saling pegangan tangan. Dahi gue, gue tempelin di tangan kami berdua sampai air mata gue netes di kulit dia. Gue tanya lagi, "Sekarang (masih cinta?).." Dia jawab lagi, "Masih.."

Wah mampus sih gue bangun langsung kaget lagi ini apaan sih gitu yampun -_-

Di lain hari, gue mimpi ngobrol lagi sama dia. Dia bilang mau menikah sama orang yang daerahnya asal Sunda, intinya di Jawa Barat kali yah? Dan dia bilang satu kampus. Asli, kalau inget itu gue bergidik sendiri😐😐

Why? Karena tiga hari kemudian sejak mimpi itu, temen baik gue ngabarin dia mau nikah😂😂😂 Dan lucunya, dia tadinya basa-basi, eh tiba-tiba gue nyeletuk, "Nes, dia mau nikah ya?" Jujur gue kaget dengan pertanyaan gue dan of course temen gue jauh lebih kaget wkwkwk. Karena ternyata sebetulnya temen gue mau ngabari itu ke gue tapi masih ragu-ragu.

Seketika rasanya gue dipaksa melepaskan sesuatu yang selalu gue peluk selama ini. Sakit gak? Gue toyor yang pada bilang kaga wkwkwk! Gue langsung badmood di kantor, nggak konsen ngerjain deadline, tapi anehnya mata gue gak mau nangis. Dulu ada temen sekantor gue yang minta ijin nenangin diri karena terus menerus nangis pas gebetan dia ternyata nikah.

And i didnt cry...

Gue pikir saat gue pulang dari kantor, di motor gue bakal nangis. Gue senandungkan lagu Cinta Sejati nya BCL, lagu yang gue rasa itu cerita gue banget.. Tapi ya tetep aja air mata cuma di pelupuk tapi gak sampai netes.

Yah.... gue gagal nangis hingga hari ini. Gue gagal berduka atau merasa pedih. Sakit sih, tapi kayak yaudahlah.

Plot twist, dia menikah, of course dengan teman sekampusnya, orang Jawa Barat. Katanya mulai proses bulan Desember 2020. Now you can feel the creepiest thing of my long dream, right?

Mimpi fase kelima, mungkin gue bisa bilang "A good bye!" karena sejak gue tahu dia mau menikah, gue semakin sering mimpi dia tapi dengan cerita yang gajelas alias random. Kayak yaudah kami cuma ketemu karena aktifitas bareng tapi gada apapun diantara kami. Dalam seminggu, gue sampai 4 malam mimpinya, serem ya -_-

So, here it is...

Today is your happy day, man... 

Start from today you will always remember this 6 June for your whole life

Because today you start to life happily after with someone you choose

Today will be your special moment every year, that you will celebrate it as 'Anniversary'


But for me, today it should be the last day i am thinking about you

I should stop dreaming to have you


I knew.. life is so funny huh?

When you are happy (i can see your smile on your wedding video)

And here i am, alone and thinking about my next patch

Of course without you on my plan...

And here i am, have to keep my voice telling 'im okay'

For everyone who saw me as 'the abandoned girl'


So this will be my very last paper about you

I am so happy for you

Let's we meet in another day, me without feel this pain

You with your new family


My very last words..

I love you and thankyou for everything


Good bye

Monday, 22 March 2021

Bayanganmu

 Hai...


Sekali lagi kita bertemu dalam mimpi-mimpi yang sunyi

Tahukah kamu, semalaman aku sulit untuk tidur

Jam dindingku berdetak hening menuju angka 2

Setidaknya saat itulah aku mulai dapat terlelap


Sekali lagi, melihat hadirmu

Seperti biasa, begitu tampak nyata

Aku bermimpi seseorang ingin memintaku menjadi miliknya

Meskipun tanpa cinta, aku tetap menerima pinangannya


Dan disanalah kamu, tersenyum tulus memandang lurus ke arahku

Tadinya aku berharap kamu akan berlari menggenggam jemariku

Namun, kamu hanya diam membisu, tersenyum dengan mata jernihmu yang sendu


Matamu... yang selama ini menjadi bagian favoritku selain wajah teduhmu


Aku bersedih dalam cerita itu

Seolah tubuhku menolak untuk seseorang selain kamu

Kemudian aku menghampirimu, mengajakmu pergi dari hiruk pikuk orang yang berbahagia atas hariku


"Aku perlu bicara sesuatu," pintaku saat itu

Kamu hanya mengangguk seolah tahu apa maksudku


Dan disanalah kita, di suatu tempat entah dimana

Bersembunyi dari situasi yang membingungkan ini


"Aku ingin berterus terang bahwa dulu aku mencintaimu.."

Bibirku bergetar saat berbicara demikian

Mataku menatap getir pada wajah tenangmu yang masih saja tampak istimewa untukku


Kemudian kamu menunduk dalam diam

Dengan pelan membalas ucapan

"Aku juga... aku sama.. aku cinta.."


Hatiku terasa sesak oleh jawaban yang selama ini aku tunggu

Sebagian hitam diriku terus menerus bertanya mengapa baru sekarang?


Aku bertanya, bagaimana dengan sekarang?

Kamu menatapku seolah mengatakan semua masih sama


Kita saling bergenggaman tangan tanpa menatap satu sama lain

Terbata-bata aku masih berusaha mencerna kesimpulan

"So... so we both fallin in love... we are same.. we.."

Aku tak sanggup menyelesaikan kalimatku

Pahit rasanya

Kelu lidahku


Aku hanya menggenggam jemarimu semakin erat

Membahasi kedua tangan kita dengan air mataku


Aku tersedu dalam ketakutan

Dan kini wajahmu tampak muram


Hai... bagaimana ini?

Apakah aku akan benar-benar seperti itu dalam kenyataan?

Tidak bisa melupakanmu dan terus-menerus lari dalam perasaan?


Aku harus bagaimana?

Aku harus berbuat apa?


Telah kupanjatkan senandung rinduku bertubi-tubi pada Yang Kuasa

Jutaan purnama telah aku lalui dengan mendekap erat segenggam cinta yang tidak sudi mau pergi


Kembalilah...

Sembuhkanlah...


Aku masih saja merajuk dengan bayanganmu


Entah mengapa aku semakin rindu


Sore ini hujan akan datang lagi

Mengguyurku yang berjalan pelan dengan kingkong putihku yang menyusuri jalanan


Sekali lagi, memaksaku untuk mengenang jejakmu dimana-mana..

Friday, 18 December 2020

Laksamana Bulan

Kala hujan menyapaku
Lalu kamu bersenandung sebuah lagu
Tidak ada yang membuatmu malu
Kecuali bila aku memergoki kamu

Kala berada di hutan rimba
Kamu berkelana di dalam sana
Entah apa yang sedang kamu cari
Aku ada di sini mengawasi

Kala matahari mulai congkak dengan sinarnya
Kamu keluar dari persembunyian
Memanggul kayu dan tumpukan sutra
Menuju sungai yang panjangnya tak terkira

Lebih-lebih rasanya berat
Meninggalkan senyummu yang jarang disunggingkan
Tapi Ibu bersiul lantang
Pertanda aku harus segera kembali

Mereka memanggilmu laksamana muda
Pedangmu nampak bangga engkau sampirkan
Sesekali kau mandikan lautan darah
Kau hunuskan dengan begitu marah

Kau kembali...
Dari pertapa ribuan hari
Itulah bulanmu
Masih menempel setia pada langitnya
Sesekali malu-malu bulanmu itu
Mengiris dirinya sendiri hingga nyaris segaris kuku

Aku rindu seruling bambumu

Yang rupanya terus kau tiup begitu merdu
Membuatku rindu...

Ibuku kembali berteriak
Memecah antara rasa dan asa

Suaranya tercekik
Jemarinya menusuk ke arah angin
Bibirnya susah payah berseru ngeri

"Pembunuh...pembunuh...."

Hari ini pedangmu membisu
Ia tak lagi nampak bangga terhadapmu
Dendamku berada di atas awan
Pada tebasanmu yang membekas nyeri

Rupanya Kaulah tanda tanya pada keluargaku
Penyebab ayah pergi tanpa basa-basi

Kamu tak lagi menjelma tanda titik pada ceritaku
Aku butuh koma dan tanda seru

Aku memeluk kepalamu yang terbelah

Selagi tubuhmu dikoyak nelangsa...
 
Catatan Lebay Seorang Dugong Blogger Template by Ipietoon Blogger Template